Sabtu, 21 September 2013

Surat al-kafirun

QS.AL- KAFIRUN Surat al-Kaafirun terdiri atas 6 ayat surat dan merupakan surat yang ke 109. Surat al-Kafirun termasuk golongan surat-surat Makkiyyah sesudah surat al-Maa’uun. Kalian tahu mengapa surat ini dinamai Al Kafirun? ya. . .dinamai al Kaafirun (orang-orang Kafir) karena diambil dari perkataan Al-Kaafiruun yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Surat al-Kaafiruun mengisaratkan tentang habisnya semua harapan orang-orang kafir dalam usaha mereka agar Nabi Muhammad meninggalkan dakwahnya serta anjuran dalam bertoleransi. Tentu kalian semua telah menghafal surat Al Kafirun bukan? Nah sekarang marilah kita bersama sama membaca surat Al Kafirun بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ ۰۱ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ۰٢ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ۰٣ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ۰٤ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ۰٥ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُد ۰٦ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ “ Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." 1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir!" 2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah 3. Dan kamu bukan penyembah Ilah yang aku sembah 4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, 5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Ilah yang aku sembah 6. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku. [QS. Al-Kafiruun : 1-6] Demikian tadi teks surat Al Kafirun beserta terjemahannya, sekarang kita mempelajari kandungannya B. Kandungan Isi QS. Al Kafirun Secara umum, surat al-Kafirun memiliki dua kandungan utama. Pertama, ikrar kemurnian tauhid, khususnya tauhiduluhiyah (tauhid ibadah).Kedua, ikrar penolakan terhadap semua bentuk dan praktek peribadatan kepada selain Allah, yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Melihat pentingnya kedua kandungan makna surat ini sehingga perlu ditegaskan kembali dengan berbagai bentuk penegasan yang tergambar secara jelas di bawah ini, seperti: 1. Allah memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memanggil orang-orang kafir dengan khi tab (panggilan) ’Yaa ayyuhal kafirun’ (Wahai orang-orang kafir), padahal Al-Qur’an tidak biasa memanggil mereka dengan cara yang vulgar semacam ini. Yang lebih umum digunakan dalam Al-Qur’an adalah khi tab semacam’ Ya a ayyuhan naas’ (Wahai sekalian manusia) dan sebagainya. 2. Pada ayat ke-2 dan ke-4 Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan secara tegas, jelas dan terbuka kepada mereka, dan tentu sekaligus kepada setiap orang kafir sepanjang sejarah, bahwa beliau (begitu pula ummatnya) sama sekali tidak akan pernah menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir. 3. Pada ayat ke-3 dan ke-5 Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegaskan juga dengan jelas dan terbuka bahwa, orang-orang kafir pada hakikatnya tidak akan pernah benar-benar menyembah-Nya. Dimana hal ini bisa pula kita pahami sebagai larangan atas orang-orang kafir untuk ikut-ikutan melakukan praktek- praktek peribadatan kepada Allah sementara mereka masih berada dalam kekafirannya. Mereka baru boleh melakukan berbagai praktek peribadatan tersebut jika mereka sudah masuk ke dalam agama Islam. 4. Allah menegaskan hal kedua dan ketiga diatas dengan melakukan pengulangan ayat, dimana kandungan makna ayat ke-2 diulang dalam ayat ke-4 dengan sedikit perubahan redaksinash, sedang ayat ke-3 diulang dalam ayat ke-5 dengan redaksi nash yang sama persis. Adanya pengulangan ini menunjukkan adanya penafian atas realitas sekaligus larangan yang bersifat total dan menyeluruh, yang mencakup seluruh waktu (yang lalu, kini, yang akan datang dan selamanya), dan mencakup seluruh bentuk dan macam peribadatan. 5. Allah memungkasi dan menyempurnakan semua hal diatas dengan penegasan terakhir dalam firman-Nya: ’Lakum diinukum wa liya diin’ (Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku). Dimana kalimat penutup yang singkat ini memberikan sebuah penegasan sikap atas tidak bolehnya pencampuran antara agama Islam dan agama lainnya. 6. Sikap pengakuan terhadap kemajemukan dalam hal beragama namun bukan pengakuan pembenaran terhadap agama lain. Dan hal itu didukung oleh pernyataan yang menegaskan bahwa, tidak boleh ada pemaksaan untuk masuk agama Islam, apalagi agama yang lain, yakni dalam firman Allah: ”Laa ikraaha fiddiin” (QS. Al-Baqarah [2]: 256). Dan hal itu lebih dikuatkan lagi dengan dibenarkannya kaum mukminin bergaul, berhubungan, berinteraksi dan bekerjasama dengan kaumkaf irin dalam berbagai bidang kehidupan umum, seperti bidang sosial kemasyarakatan, ekonomi, bisnis dan perdagangan, politik, pemerintahan dan kenegaraan, dan lain-lain. Yang jelas semua bidang selain bidang khusus agama yang mencakup masalah aqidah dan ibadah. Sekarang kalian telah memahami kandungan surat Al Kafirun bukan? Untuk selanjutnya kalian dapat mempelajari contoh perilaku toleransi yang tercermin dalam surat Al Kafirun, setelah itu kalian diharapkan dapat mencari contoh perilaku toleransi di lingkungan kalian. C. Contoh Perilaku Toleransi 1. Dalam Kehidupan Sekolah Dalam kehidupan di sekolah dibutuhkan adanya toleransi baik antara kepala sekolah dengan guru, guru dengan guru, kepala sekolah dengan murid, guru dengan murid maupun murid dengan murid. Toleransi tersebut dibutuhkan untuk terciptanya proses pembelajaran yang kondusif, sehingga tujuan dari pendidikan persekolahan dapat tercapai. Adapun contoh-contoh toleransi dalam kehidupan sekolah antara lain: a. Mematuhi tata tertib sekolah. b. Saling menyayangi dan menghormati sesama pelajar. c. Berkata yang sopan atau menyinggung perasaan orang lain. 2. Dalam Kehidupan di Masyarakat Cobalah Anda renungkan dan Anda sadari mengapa terjadi peristiwa seperti tawuran antar pelajar di kota-kota besar, tawuran antar warga, peristiwa atau pertikaian antar agama dan antar etnis dan lain sebagainya.Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan cerminan dari kurangnya toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi toleransi dalam kehidupan di masyarakat antara lain, yaitu: a. Adanya sikap saling menghormati dan menghargai antara pemeluk agama. b. Tidak membeda-bedakan suku, ras atau golongan. 3. Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di dalamnya terdapat kehidupan berbagai macam pemeluk agama, penganut kepercayaan dan suku bangsa yang berbeda. Namun demikian perbedaan-perbedaan kehidupan tersebut tidak menjadikan bangsa ini tercerai-berai, akan tetapi justru menjadi kemajemukan kehidupan sebagai suatu bangsa dan Negara Indonesia. Oleh karena itu kehidupan tersebut perlu tetap dipelihara agar tidak terjadi disintegrasi bangsa. Adapun toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara antara lain: a. Merasa senasib sepenanggungan. b. Menciptakan persatuan dan kesatuan, rasa kebangsaan atau nasionalisme. c. Mengakui dan menghargai hak asasi manusia G. Rangkuman Setelah kita mempelajari tentang toleransi yang terdapat dalam surat Al Kafirun, marilah kita simpulkan dari uraian diatas Dari pemaparan diatas dapatlah kita tarik beberapa kesimpulan diantaranya bahwa surat al-Kaafiruun mengisaratkan tentang habisnya semua harapan orang-orang kafir dalam usaha mereka agar Nabi Muhammad meninggalkan dakwahnya serta anjuran dalam bertoleransitoleransi dalam Islam adalah toleransi sebatas menghargai dan menghormat pemeluk agama lain, tidak sampai pada sinkretisme. Toleransi Islam dalam hal beragama adalah tidak adanya paksaan untuk memeluk agama Islam.Kemudian bekerjasama dalam berbagai bidang kehidupan umum, seperti bidang sosial kemasyarakatan, ekonomi, bisnis dan perdagangan, politik, pemerintahan dan kenegaraan, dan lain-lain. Yang jelas semua bidang selain bidang khusus agama yang mencakup masalah aqidah dan ibadah. Penerapan sikap toleransi dalam kehidupan sehari-hari bisa dipilah menjadi tiga aspek yakni dalam kehidupan di sekolah, kehidupan di masyarakat dan dalam behidupan berbangsa dan bernegara. http://www.google.com/search?q=toleransi+surat+al+kafirun&oe=utf-8&rls=org.mozilla%3Aen-US%3Aofficial&client=firefox-a&oq=toleransi+surat+&gs_l=heirloom-serp.1.0.0i22i30l7.18484.25293.0.28246.31.23.0.0.0.3.330.3416.6j7j5j2.20.0....0...1ac.1.20.heirloom-serp.M5Pc0VyDM9o SURAH YUNUS 40-41 Pengertian Toleransi Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, toleransi berasal dari kata “toleran” (Inggris: tolerance; Arab: tasamuh) yang berarti batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan. Secara etimologi, toleransi adalah kesabaran, ketahanan emosional, dan kelapangan dada. Sedangkan menurut istilah (terminology), toleransi yaitu bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dsb) yang berbeda dan atau yang bertentangan dengan pendiriannya. Pengertian toleransi secara luas adalah suatu sikap atau perilaku manusia yang tidak menyimpang dari aturan, dimana seseorang menghargai atau menghormati setiap tindakan yang orang lain lakukan. Contohnya adalah toleransi beragama dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya. Jadi, toleransi beragama adalah ialah sikap sabar dan menahan diri untuk tidak mengganggu dan tidak melecehkan agama atau system keyakinan dan ibadah penganut agama-agama lain. B. Ayat – Ayat Al-Qur’an Tentang Anjuran Toleransi a) Surat Al-Kafirun ayat 1-6 Mengajak untuk melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan tanpa saling mengganggu. Rasulullah saw tidak akan menyembah Tuhan orang-orang kafir (berhala) kecuali tuhan kaum beriman dan maha pengasih lagi maha penyayang. Rasullullah saw dan kaum mukmin tidak akan beribadah seperti ibadahnya orang kafir yang bercampur dengan syirik, yaitu memuja patung atau berhala dan menganggap mereka dapat memberikan perlindungan atau kekuatan kepada orang kafir tersebut. Tidak boleh saling memaksa untuk mengikuti suatu agama. b) Surat Yunus ayat 40-41 Dalam ayat ini, Allah mengajarkan kita untuk bertoleransikepada orang yang tidak mau beriman atau yang berbeda keyakinan. Semua amal perbuatan manusia, masing-masing tidak akan mempengaruhi satu sama lainnya, karena akan dirasakan secara individu akibat baik dan buruknya dengan prinsip “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu” c) Surat Al Kahfi ayat 29 Kebenaran (akhlak, yakni sesuatu yang mantap dan tidak mengalami perubahan) milik Allah adalah harga mati karena sumbernya hanya Allah swt. Siapapun dipersilakan untuk menerima (beriman) atau menolak (kafir) dengan kebenaran tersebut. Allah swt tidak akan merasa rugi dengan kekafiran itu, karena justru kerugian akan menimpa orang yang kafir, mereka termasuk orang yang menganiaya diri mereka sendiri. d.) Toleransi Adalah Keimanan Yang Paling Utama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Artinya : Seutama-utama keimanan adalah sabar dan toleransi” [Shahih Al-Jami' As-Shaghir 110] C. Mengidentifikasi Perilaku Toleransi dan Membiasakan Perilaku Bertoleransi a. Identifikasi perilaku bertoleransi 1. Setiap muslim harus bersikap tegas dalam mempertahankan akidah dan keyakinannya sebagai muslim. 2. Sikap tegas harus disampaikan dengan cara yang baik agar tidak menyinggung perasaan orang lain yang berbeda 3. Tidak mau berkompromi dalam hal akidah dan keyakinan dengan dalih dan alas an apapun. 4. bersikap saling menghormati dan menghargai terhadap sesama, meskipun terdapat perbedaan. 5. Di dunia ini selalu ada perbedaan, ada orang yang beriman ada orang yang tidak beriman. 6. Tidak saling mengganggu dan merendahkan satu sama lain. 7. Umat islam harus berpegang teguh kepada kebenaran yang hakiki, yakni kebenaran dari allah swt. b. Menunjukkan perilaku bertoleransi 1. Tidak mengganggu orang lain yang berbeda agama dan keyakinan. 2. Tidak menerima bujuk rayu dari orang lain yang berbeda agama. 3. Menganggap orang lain sebagai saudara meskipun berbeda agama dan keyakinan. 4. Selalu bersikap hormat dan menghargai orang lain yang berbeda keyakinan, menghindari sikap permusuhan dan kebencian terhadap orang lain. 5. Menghindari sikap egois, sombong dan angkuh yang dapat membuat orang lain tersinggung. 6. Selalu waspada terhadap orang lain yang bermaksud menghancurkan akidah. 7. Bersikap teguh pendirian dalam menegakkan kebenaran sesuai yang dianjurkan agama Islam. 8. Selalu mempertebal keimanan. D. Manfaat adanya toleransi dalam beragama 1. Menjadikan lingkungan masyarakat rukun meskipun berbeda keyakinan 2. menumbuhkan rasa saling menghargai antara agama sesuai kepecayaan yang di anut. 3.an agar selain kita mempunyai hubungan baik dengan Allah SWT tetapi juga hubungan yang antar sesama manusia. Salah satu contohn menumbuhkan sikap hormat menghormati antar pemeluk agama sehingga tercipta suasana yang tenang. Contoh pelaksanaan toleransi antara umat beragama dapat kita lihat seperti: a. membangun jembatan. b. memperbaiki tempat-tempat umum. c. membantu orang yang kena musibah banjir. d. membantu korban kecelakaan lalu-lintas.damai dan tenteram dalam kehidupan beragama termasuk dalam melaksanakan ibadat BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Jadi dengan dibuatnya makalah ini diharapkya bertoleransi antar sesama, baik dari hal agama maupun dalam hal lain. Hal ini dibutuhkan untuk menciptakan kehidupan yang tentram, sehingga diperlukan kesediaan pada setiap individu manusia untuk selalu menanamkan sikap toleransi dalam beragama. Demikian semestinya toleransi beragama itu diterapkan dimasyarakat Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam. Tidak sepantasnya kaum muslimin lalai dari segenap prinsip dan patokan agamanya dalam bertoleransi. Karen kaum muslimin akan ditunggangi oelh musuh-musuhnya bila melalaikan prinsip-prinsip tersebut. B. SURAH YUNUS AYAT 40-41 وَ مِنۡهُمۡ مَّنۡ يُّؤۡمِنُ بِهٖ وَمِنۡهُمۡ مَّنۡ لَّا يُؤۡمِنُ بِهٖ‌ؕ وَرَبُّكَ اَعۡلَمُ بِالۡمُفۡسِدِيۡنَ. وَاِنۡ كَذَّبُوۡكَ فَقُلْ لِّىۡ عَمَلِىۡ وَلَـكُمۡ عَمَلُكُمۡ‌ۚ اَنۡـتُمۡ بَرِيۡٓــُٔوۡنَ مِمَّاۤ اَعۡمَلُ وَاَنَا بَرِىۡٓءٌ مِّمَّا تَعۡمَلُوۡنَ‏ Terjemahan: 40. Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al-Quran, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Rabbmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 10:40) 41. Jika mereka mendustaka kamu, maka katakanlah: Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan aku berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. 10:41) Tafsiran : (40) Allah menjelaskan bahwa orang yang pernah menerima seruan dakwah Nabi Muhammad Saw, ada orang-orang yang beriman kepada Al-Quran dan mengikutinya serta memperoleh manfaat dari risalah yang disampaikan, tapi ada juga yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad Saw mereka mati dalam kekafiran. (41) Allah memberikan penegakan kepada rasulnya, bahwa jika mereka menduskanmu, maka katakanlah bagiku pekerjaan ku, dan bagi kalian pekerjaan kalian, kalian berlepas diri dari apa yang aku kerjakan dan aku berlepas diri terhadap apa yang kalian kerjakan. Allah maha mengetahui siapa yang berhak mendapatkan Hidayah, lalu diberinya hidayah, dan dia mengetahui juga siapa yang berhak sesat. Lalu dia menyesatkannya, dia maha adil dan tidak pernah Dzalim, bahkan dia memberi kepada masing-masingnya sesuai dengan apa yang berhak dia terima. C. SURAH AL-KAHFI AYAT 29 Terjemahan: Dan katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (QS.18:29) Tafsiran : (29) Pada ayat ini, Allah Swt memerintahkan Rasulnya supaya menegaskan kepada orang-orang kafir bahwa kebenaran yang disampaikan kepada mereka itu berasal dari Allah, Tuhan semesta alam , kewajiban mereka adalah mengikuti kebenaran itu dan mengamalkannya, manfaat dari kebenaran itu tentulah kembali kepada mereka yang mengamalkannya. Demikian pula sebaliknya, akibat buruk dari pengingkaran terrhadap kebenaran itu kembali kepada mereka yang mengingkarnya. Oleh karena itu, barang siapa yang ingin beriman kepadanya dan masuk kedalam barisan orang-orang yang beriman, hendaklah segera berbuat tanpa mengajukan syarat-syaran dan alasan-alasan yang dibuat-buat sebagaimana halnya pemuka-pemuka musyriki yang memandang rendah orang-orang mukmin yang kafir. Juga halnya bagi siapa yang ingkar dan meremehkan kebenaran Rasulullah Saw tidak akan memperoleh kerugian apa-apa karena keingkaran itu sebagaimana halnya beliau tidak akan memperoleh keuntungan apapun jika mereka beriman, Allah SWT berfirman: ...فَلَهَا أَسَأْتُمْ وَإِنْ لأنْفُسِكُمْ تُمْ أَحْسَنْحْسَنْتُمْ أَ إِنْ Artinya : jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. (Al-Isra’:17/7) Tetapi jika manusia memilih kekafiran dan melepaskan keimanan, berarti mereka telah melakukan kezaliman, yakni meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Oleh karena itu, Allah memberikan ancaman keras kepada mereka yakni akan melemparkan mereka kedalam neraka mereka tidak akan lolos dari neraka itu. Karena api neraka yang bergejolak itu mengepung mereka dari segala penjuru, sehingga mereka laksana orang yang tertutup dalam kurungan. Bila mana dalam neraka itu mereka itu saling meminta minum karena dahaga, maka akan diberi air yang panasnya seperti cairan besi, yang mendidih yang menghanguskan muka mereka sungguh sangat jelek air yang mereka minum itu. Tidak mungkin air minum yang panasnya seperti itu dapat menyegarkan kerongkongan dan menghilangkan dahaga orang yang sedang kepanasan bahkan sebaliknya menghancurkan diri mereka. Neraka yang mereka tempati ini adalah tempat yang paling buruk dan penuh dengan siksa. http://www.google.com/search?q=surah+yunus+ayat+40-41&oe=utf-8&rls=org.mozilla%3Aen-US%3Aofficial&client=firefox-a&oq=ayat+surat+yunus+&gs_l=heirloom-serp.1.2.0i19j0i13i30i19j0i22i10i30i19j0i22i30i19j0i22i10i30i19j0i22i30i19l5.65540.70889.0.74250.43.18.0.0.0.0.1238.10198.0j1j5-7j4j2.14.0....0...1ac.1.20.heirloom-serp.ftb3LsMih5U QS.AL- KAFIRUN Surat al-Kaafirun terdiri atas 6 ayat surat dan merupakan surat yang ke 109. Surat al-Kafirun termasuk golongan surat-surat Makkiyyah sesudah surat al-Maa’uun. Kalian tahu mengapa surat ini dinamai Al Kafirun? ya. . .dinamai al Kaafirun (orang-orang Kafir) karena diambil dari perkataan Al-Kaafiruun yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Surat al-Kaafiruun mengisaratkan tentang habisnya semua harapan orang-orang kafir dalam usaha mereka agar Nabi Muhammad meninggalkan dakwahnya serta anjuran dalam bertoleransi. Tentu kalian semua telah menghafal surat Al Kafirun bukan? Nah sekarang marilah kita bersama sama membaca surat Al Kafirun بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ ۰۱ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ۰٢ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ۰٣ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ۰٤ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ۰٥ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُد ۰٦ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ “ Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." 1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir!" 2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah 3. Dan kamu bukan penyembah Ilah yang aku sembah 4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, 5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Ilah yang aku sembah 6. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku. [QS. Al-Kafiruun : 1-6] Demikian tadi teks surat Al Kafirun beserta terjemahannya, sekarang kita mempelajari kandungannya B. Kandungan Isi QS. Al Kafirun Secara umum, surat al-Kafirun memiliki dua kandungan utama. Pertama, ikrar kemurnian tauhid, khususnya tauhiduluhiyah (tauhid ibadah).Kedua, ikrar penolakan terhadap semua bentuk dan praktek peribadatan kepada selain Allah, yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Melihat pentingnya kedua kandungan makna surat ini sehingga perlu ditegaskan kembali dengan berbagai bentuk penegasan yang tergambar secara jelas di bawah ini, seperti: 1. Allah memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memanggil orang-orang kafir dengan khi tab (panggilan) ’Yaa ayyuhal kafirun’ (Wahai orang-orang kafir), padahal Al-Qur’an tidak biasa memanggil mereka dengan cara yang vulgar semacam ini. Yang lebih umum digunakan dalam Al-Qur’an adalah khi tab semacam’ Ya a ayyuhan naas’ (Wahai sekalian manusia) dan sebagainya. 2. Pada ayat ke-2 dan ke-4 Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan secara tegas, jelas dan terbuka kepada mereka, dan tentu sekaligus kepada setiap orang kafir sepanjang sejarah, bahwa beliau (begitu pula ummatnya) sama sekali tidak akan pernah menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir. 3. Pada ayat ke-3 dan ke-5 Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegaskan juga dengan jelas dan terbuka bahwa, orang-orang kafir pada hakikatnya tidak akan pernah benar-benar menyembah-Nya. Dimana hal ini bisa pula kita pahami sebagai larangan atas orang-orang kafir untuk ikut-ikutan melakukan praktek- praktek peribadatan kepada Allah sementara mereka masih berada dalam kekafirannya. Mereka baru boleh melakukan berbagai praktek peribadatan tersebut jika mereka sudah masuk ke dalam agama Islam. 4. Allah menegaskan hal kedua dan ketiga diatas dengan melakukan pengulangan ayat, dimana kandungan makna ayat ke-2 diulang dalam ayat ke-4 dengan sedikit perubahan redaksinash, sedang ayat ke-3 diulang dalam ayat ke-5 dengan redaksi nash yang sama persis. Adanya pengulangan ini menunjukkan adanya penafian atas realitas sekaligus larangan yang bersifat total dan menyeluruh, yang mencakup seluruh waktu (yang lalu, kini, yang akan datang dan selamanya), dan mencakup seluruh bentuk dan macam peribadatan. 5. Allah memungkasi dan menyempurnakan semua hal diatas dengan penegasan terakhir dalam firman-Nya: ’Lakum diinukum wa liya diin’ (Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku). Dimana kalimat penutup yang singkat ini memberikan sebuah penegasan sikap atas tidak bolehnya pencampuran antara agama Islam dan agama lainnya. 6. Sikap pengakuan terhadap kemajemukan dalam hal beragama namun bukan pengakuan pembenaran terhadap agama lain. Dan hal itu didukung oleh pernyataan yang menegaskan bahwa, tidak boleh ada pemaksaan untuk masuk agama Islam, apalagi agama yang lain, yakni dalam firman Allah: ”Laa ikraaha fiddiin” (QS. Al-Baqarah [2]: 256). Dan hal itu lebih dikuatkan lagi dengan dibenarkannya kaum mukminin bergaul, berhubungan, berinteraksi dan bekerjasama dengan kaumkaf irin dalam berbagai bidang kehidupan umum, seperti bidang sosial kemasyarakatan, ekonomi, bisnis dan perdagangan, politik, pemerintahan dan kenegaraan, dan lain-lain. Yang jelas semua bidang selain bidang khusus agama yang mencakup masalah aqidah dan ibadah. Sekarang kalian telah memahami kandungan surat Al Kafirun bukan? Untuk selanjutnya kalian dapat mempelajari contoh perilaku toleransi yang tercermin dalam surat Al Kafirun, setelah itu kalian diharapkan dapat mencari contoh perilaku toleransi di lingkungan kalian. C. Contoh Perilaku Toleransi 1. Dalam Kehidupan Sekolah Dalam kehidupan di sekolah dibutuhkan adanya toleransi baik antara kepala sekolah dengan guru, guru dengan guru, kepala sekolah dengan murid, guru dengan murid maupun murid dengan murid. Toleransi tersebut dibutuhkan untuk terciptanya proses pembelajaran yang kondusif, sehingga tujuan dari pendidikan persekolahan dapat tercapai. Adapun contoh-contoh toleransi dalam kehidupan sekolah antara lain: a. Mematuhi tata tertib sekolah. b. Saling menyayangi dan menghormati sesama pelajar. c. Berkata yang sopan atau menyinggung perasaan orang lain. 2. Dalam Kehidupan di Masyarakat Cobalah Anda renungkan dan Anda sadari mengapa terjadi peristiwa seperti tawuran antar pelajar di kota-kota besar, tawuran antar warga, peristiwa atau pertikaian antar agama dan antar etnis dan lain sebagainya.Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan cerminan dari kurangnya toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi toleransi dalam kehidupan di masyarakat antara lain, yaitu: a. Adanya sikap saling menghormati dan menghargai antara pemeluk agama. b. Tidak membeda-bedakan suku, ras atau golongan. 3. Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di dalamnya terdapat kehidupan berbagai macam pemeluk agama, penganut kepercayaan dan suku bangsa yang berbeda. Namun demikian perbedaan-perbedaan kehidupan tersebut tidak menjadikan bangsa ini tercerai-berai, akan tetapi justru menjadi kemajemukan kehidupan sebagai suatu bangsa dan Negara Indonesia. Oleh karena itu kehidupan tersebut perlu tetap dipelihara agar tidak terjadi disintegrasi bangsa. Adapun toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara antara lain: a. Merasa senasib sepenanggungan. b. Menciptakan persatuan dan kesatuan, rasa kebangsaan atau nasionalisme. c. Mengakui dan menghargai hak asasi manusia G. Rangkuman Setelah kita mempelajari tentang toleransi yang terdapat dalam surat Al Kafirun, marilah kita simpulkan dari uraian diatas Dari pemaparan diatas dapatlah kita tarik beberapa kesimpulan diantaranya bahwa surat al-Kaafiruun mengisaratkan tentang habisnya semua harapan orang-orang kafir dalam usaha mereka agar Nabi Muhammad meninggalkan dakwahnya serta anjuran dalam bertoleransitoleransi dalam Islam adalah toleransi sebatas menghargai dan menghormat pemeluk agama lain, tidak sampai pada sinkretisme. Toleransi Islam dalam hal beragama adalah tidak adanya paksaan untuk memeluk agama Islam.Kemudian bekerjasama dalam berbagai bidang kehidupan umum, seperti bidang sosial kemasyarakatan, ekonomi, bisnis dan perdagangan, politik, pemerintahan dan kenegaraan, dan lain-lain. Yang jelas semua bidang selain bidang khusus agama yang mencakup masalah aqidah dan ibadah. Penerapan sikap toleransi dalam kehidupan sehari-hari bisa dipilah menjadi tiga aspek yakni dalam kehidupan di sekolah, kehidupan di masyarakat dan dalam behidupan berbangsa dan bernegara. http://www.google.com/search?q=toleransi+surat+al+kafirun&oe=utf-8&rls=org.mozilla%3Aen-US%3Aofficial&client=firefox-a&oq=toleransi+surat+&gs_l=heirloom-serp.1.0.0i22i30l7.18484.25293.0.28246.31.23.0.0.0.3.330.3416.6j7j5j2.20.0....0...1ac.1.20.heirloom-serp.M5Pc0VyDM9o SURAH YUNUS 40-41 Pengertian Toleransi Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, toleransi berasal dari kata “toleran” (Inggris: tolerance; Arab: tasamuh) yang berarti batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan. Secara etimologi, toleransi adalah kesabaran, ketahanan emosional, dan kelapangan dada. Sedangkan menurut istilah (terminology), toleransi yaitu bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dsb) yang berbeda dan atau yang bertentangan dengan pendiriannya. Pengertian toleransi secara luas adalah suatu sikap atau perilaku manusia yang tidak menyimpang dari aturan, dimana seseorang menghargai atau menghormati setiap tindakan yang orang lain lakukan. Contohnya adalah toleransi beragama dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya. Jadi, toleransi beragama adalah ialah sikap sabar dan menahan diri untuk tidak mengganggu dan tidak melecehkan agama atau system keyakinan dan ibadah penganut agama-agama lain. B. Ayat – Ayat Al-Qur’an Tentang Anjuran Toleransi a) Surat Al-Kafirun ayat 1-6 Mengajak untuk melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan tanpa saling mengganggu. Rasulullah saw tidak akan menyembah Tuhan orang-orang kafir (berhala) kecuali tuhan kaum beriman dan maha pengasih lagi maha penyayang. Rasullullah saw dan kaum mukmin tidak akan beribadah seperti ibadahnya orang kafir yang bercampur dengan syirik, yaitu memuja patung atau berhala dan menganggap mereka dapat memberikan perlindungan atau kekuatan kepada orang kafir tersebut. Tidak boleh saling memaksa untuk mengikuti suatu agama. b) Surat Yunus ayat 40-41 Dalam ayat ini, Allah mengajarkan kita untuk bertoleransikepada orang yang tidak mau beriman atau yang berbeda keyakinan. Semua amal perbuatan manusia, masing-masing tidak akan mempengaruhi satu sama lainnya, karena akan dirasakan secara individu akibat baik dan buruknya dengan prinsip “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu” c) Surat Al Kahfi ayat 29 Kebenaran (akhlak, yakni sesuatu yang mantap dan tidak mengalami perubahan) milik Allah adalah harga mati karena sumbernya hanya Allah swt. Siapapun dipersilakan untuk menerima (beriman) atau menolak (kafir) dengan kebenaran tersebut. Allah swt tidak akan merasa rugi dengan kekafiran itu, karena justru kerugian akan menimpa orang yang kafir, mereka termasuk orang yang menganiaya diri mereka sendiri. d.) Toleransi Adalah Keimanan Yang Paling Utama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Artinya : Seutama-utama keimanan adalah sabar dan toleransi” [Shahih Al-Jami' As-Shaghir 110] C. Mengidentifikasi Perilaku Toleransi dan Membiasakan Perilaku Bertoleransi a. Identifikasi perilaku bertoleransi 1. Setiap muslim harus bersikap tegas dalam mempertahankan akidah dan keyakinannya sebagai muslim. 2. Sikap tegas harus disampaikan dengan cara yang baik agar tidak menyinggung perasaan orang lain yang berbeda 3. Tidak mau berkompromi dalam hal akidah dan keyakinan dengan dalih dan alas an apapun. 4. bersikap saling menghormati dan menghargai terhadap sesama, meskipun terdapat perbedaan. 5. Di dunia ini selalu ada perbedaan, ada orang yang beriman ada orang yang tidak beriman. 6. Tidak saling mengganggu dan merendahkan satu sama lain. 7. Umat islam harus berpegang teguh kepada kebenaran yang hakiki, yakni kebenaran dari allah swt. b. Menunjukkan perilaku bertoleransi 1. Tidak mengganggu orang lain yang berbeda agama dan keyakinan. 2. Tidak menerima bujuk rayu dari orang lain yang berbeda agama. 3. Menganggap orang lain sebagai saudara meskipun berbeda agama dan keyakinan. 4. Selalu bersikap hormat dan menghargai orang lain yang berbeda keyakinan, menghindari sikap permusuhan dan kebencian terhadap orang lain. 5. Menghindari sikap egois, sombong dan angkuh yang dapat membuat orang lain tersinggung. 6. Selalu waspada terhadap orang lain yang bermaksud menghancurkan akidah. 7. Bersikap teguh pendirian dalam menegakkan kebenaran sesuai yang dianjurkan agama Islam. 8. Selalu mempertebal keimanan. D. Manfaat adanya toleransi dalam beragama 1. Menjadikan lingkungan masyarakat rukun meskipun berbeda keyakinan 2. menumbuhkan rasa saling menghargai antara agama sesuai kepecayaan yang di anut. 3.an agar selain kita mempunyai hubungan baik dengan Allah SWT tetapi juga hubungan yang antar sesama manusia. Salah satu contohn menumbuhkan sikap hormat menghormati antar pemeluk agama sehingga tercipta suasana yang tenang. Contoh pelaksanaan toleransi antara umat beragama dapat kita lihat seperti: a. membangun jembatan. b. memperbaiki tempat-tempat umum. c. membantu orang yang kena musibah banjir. d. membantu korban kecelakaan lalu-lintas.damai dan tenteram dalam kehidupan beragama termasuk dalam melaksanakan ibadat BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Jadi dengan dibuatnya makalah ini diharapkya bertoleransi antar sesama, baik dari hal agama maupun dalam hal lain. Hal ini dibutuhkan untuk menciptakan kehidupan yang tentram, sehingga diperlukan kesediaan pada setiap individu manusia untuk selalu menanamkan sikap toleransi dalam beragama. Demikian semestinya toleransi beragama itu diterapkan dimasyarakat Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam. Tidak sepantasnya kaum muslimin lalai dari segenap prinsip dan patokan agamanya dalam bertoleransi. Karen kaum muslimin akan ditunggangi oelh musuh-musuhnya bila melalaikan prinsip-prinsip tersebut. B. SURAH YUNUS AYAT 40-41 وَ مِنۡهُمۡ مَّنۡ يُّؤۡمِنُ بِهٖ وَمِنۡهُمۡ مَّنۡ لَّا يُؤۡمِنُ بِهٖ‌ؕ وَرَبُّكَ اَعۡلَمُ بِالۡمُفۡسِدِيۡنَ. وَاِنۡ كَذَّبُوۡكَ فَقُلْ لِّىۡ عَمَلِىۡ وَلَـكُمۡ عَمَلُكُمۡ‌ۚ اَنۡـتُمۡ بَرِيۡٓــُٔوۡنَ مِمَّاۤ اَعۡمَلُ وَاَنَا بَرِىۡٓءٌ مِّمَّا تَعۡمَلُوۡنَ‏ Terjemahan: 40. Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al-Quran, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Rabbmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 10:40) 41. Jika mereka mendustaka kamu, maka katakanlah: Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan aku berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. 10:41) Tafsiran : (40) Allah menjelaskan bahwa orang yang pernah menerima seruan dakwah Nabi Muhammad Saw, ada orang-orang yang beriman kepada Al-Quran dan mengikutinya serta memperoleh manfaat dari risalah yang disampaikan, tapi ada juga yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad Saw mereka mati dalam kekafiran. (41) Allah memberikan penegakan kepada rasulnya, bahwa jika mereka menduskanmu, maka katakanlah bagiku pekerjaan ku, dan bagi kalian pekerjaan kalian, kalian berlepas diri dari apa yang aku kerjakan dan aku berlepas diri terhadap apa yang kalian kerjakan. Allah maha mengetahui siapa yang berhak mendapatkan Hidayah, lalu diberinya hidayah, dan dia mengetahui juga siapa yang berhak sesat. Lalu dia menyesatkannya, dia maha adil dan tidak pernah Dzalim, bahkan dia memberi kepada masing-masingnya sesuai dengan apa yang berhak dia terima. C. SURAH AL-KAHFI AYAT 29 Terjemahan: Dan katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (QS.18:29) Tafsiran : (29) Pada ayat ini, Allah Swt memerintahkan Rasulnya supaya menegaskan kepada orang-orang kafir bahwa kebenaran yang disampaikan kepada mereka itu berasal dari Allah, Tuhan semesta alam , kewajiban mereka adalah mengikuti kebenaran itu dan mengamalkannya, manfaat dari kebenaran itu tentulah kembali kepada mereka yang mengamalkannya. Demikian pula sebaliknya, akibat buruk dari pengingkaran terrhadap kebenaran itu kembali kepada mereka yang mengingkarnya. Oleh karena itu, barang siapa yang ingin beriman kepadanya dan masuk kedalam barisan orang-orang yang beriman, hendaklah segera berbuat tanpa mengajukan syarat-syaran dan alasan-alasan yang dibuat-buat sebagaimana halnya pemuka-pemuka musyriki yang memandang rendah orang-orang mukmin yang kafir. Juga halnya bagi siapa yang ingkar dan meremehkan kebenaran Rasulullah Saw tidak akan memperoleh kerugian apa-apa karena keingkaran itu sebagaimana halnya beliau tidak akan memperoleh keuntungan apapun jika mereka beriman, Allah SWT berfirman: ...فَلَهَا أَسَأْتُمْ وَإِنْ لأنْفُسِكُمْ تُمْ أَحْسَنْحْسَنْتُمْ أَ إِنْ Artinya : jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. (Al-Isra’:17/7) Tetapi jika manusia memilih kekafiran dan melepaskan keimanan, berarti mereka telah melakukan kezaliman, yakni meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Oleh karena itu, Allah memberikan ancaman keras kepada mereka yakni akan melemparkan mereka kedalam neraka mereka tidak akan lolos dari neraka itu. Karena api neraka yang bergejolak itu mengepung mereka dari segala penjuru, sehingga mereka laksana orang yang tertutup dalam kurungan. Bila mana dalam neraka itu mereka itu saling meminta minum karena dahaga, maka akan diberi air yang panasnya seperti cairan besi, yang mendidih yang menghanguskan muka mereka sungguh sangat jelek air yang mereka minum itu. Tidak mungkin air minum yang panasnya seperti itu dapat menyegarkan kerongkongan dan menghilangkan dahaga orang yang sedang kepanasan bahkan sebaliknya menghancurkan diri mereka. Neraka yang mereka tempati ini adalah tempat yang paling buruk dan penuh dengan siksa. http://www.google.com/search?q=surah+yunus+ayat+40-41&oe=utf-8&rls=org.mozilla%3Aen-US%3Aofficial&client=firefox-a&oq=ayat+surat+yunus+&gs_l=heirloom-serp.1.2.0i19j0i13i30i19j0i22i10i30i19j0i22i30i19j0i22i10i30i19j0i22i30i19l5.65540.70889.0.74250.43.18.0.0.0.0.1238.10198.0j1j5-7j4j2.14.0....0...1ac.1.20.heirloom-serp.ftb3LsMih5U

3 komentar:

  1. thx, sangat membantu:) dpt tgs kyk gni juga soalnya:) ohya, mampir juga dong di blog aku, hehhehe!! nrahmadhani17.blogspot.com... makasih ^_^

    BalasHapus
  2. menurutku?tulisannya?agak sulit dibaca dihp

    BalasHapus